Pada saatnya, waktu akan membuktikan posisi kita di mata manusia. Kadang teman seiring seperjuangan akan berselisih jalan. Meski tak saling membenci, namun sapa tak lagi mudah terucap.
Begitulah manusia. Menilai dari tampilan duniawi. Jika merasa sejajar, maka mudah mengajak melangkah. Jika posisi terasa beda, basa basi dalam berkata cukuplah sebagai sekedar tanda simpati. Hambar. Terasa sampai ke relung hati. Duhai, begitu mudahnya hati berbalik. Hanya karena harta duniawi dan kemasyhuran yang tak abadi.
Lupa, bahwa ada masa dimana segala harta dan pangkat akan ditinggalkan, atau meninggalkan.
Lupa, bahwa tahta dunia takkan menolong di sempitnya lahat.
Lupa bahwa teman berhura satu-persatu kelak akan berbalik menjadi lawan di kemudian hari.
"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)
Hanya teman atas dasar takwa yang akan setia. Selamanya.
Bisa saja dia adalah teman yang sekarang tak kau anggap. Ya, dia yang tetap setia mengirim doa di setiap laramu, yang engkau tak ingin seiring dengannya saat ini. Dia yang kadang menitikkan butiran bening di sudut-sudut matanya, karena abaimu. Dia yang merasa tersisih darimu karena tak sepadannya langkah. Dia yang mungkin tersenyum di depanmu, namun menyimpan duka atas sikapmu.
Maka berhentilah sejenak. Cobalah awas akan sekelilingmu. Jangan sampai namamu disebut seiring dia yang tak hirau akan akhiratmu. Dia yang hanya akan menemanimu meraup nikmatnya dunia. Dia yang hanya mengajakmu kepada kelalaian.
"Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman."
Semoga saja ia yang menjadi sahabatmu kini adalah dia yang akan mengajakmu melangkah kepada kebahagiaan abadi, yang juga kelak akan mencarimu di surga.
“Ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang dihimpun dalam kesatuan. Jika saling mengenal di antara mereka maka akan bersatu. Dan yang saling merasa asing di antara mereka maka akan berpisah.” (HR. Muslim 6376)
Jika yang membersamaimu kini adalah dia yang hanya mengenalkanmu pada mewah gemerlapnya dunia, maka segeralah berpaling. Carilah teman yang dapat memberimu nikmat iman dan dapat kau jadikan lentera agar terang langkahmu sampai ke ujung masa.
Sebagaimana Umar bin Khattab berkata: “Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka pegang lah erat-erat.”
Posting Komentar