Guruku

Selasa, 26 November 2019

Dulu, waktu kecil, pengen banget jadi guru. Keren. 
Saking kepinginnya jadi guru, kadang taplak meja dan selop ibu jadi korban.
Taplak meja tamu kulilitkan ke pinggang sambil membayangkan diriku seperti ibu guru memakai rok span.  Lalu selop ibu menjadi pelengkap gayaku bak ibu guru yang berjalan hilir mudik di depan kelas. Walhasil, mencong-menconglah selop ibu bahkan tak jarang patah ditengah tertekan oleh tumit kecilku 🤦‍♀️

Kala itu, sosok guru adalah manusia super di pandanganku. Betapa sempurnanya ia. Selain pandai dan cantik, juga serba bisa. Ia bisa menari, bisa menyanyi, sekaligus bisa memeluk ketika aku menangis.

Salah seorang guru yang sampai kini masih melekat di ingatanku adalah Ibu Satria. Ia cantik, putih dan tinggi serta memiliki rambut ikal yang suka ia ikat ke belakang.

Ia sangat senang memakai sepatu berhak tinggi yang di ikat di punggung kakinya. Selain itu, ia juga memiliki jari jemari lentik dan kuku-kuku jarinya sangat terawat. Ia sayang padaku. Setidaknya perasaan itu masih tersimpan olehku hingga sekarang.

Sayangnya ibu guruku ini sering sakit. Jika penyakitnya kambuh, tugas menulis di papan pasti akan berpindah kepadaku. Aku sangat suka, meski untuk menulis di papan hitam yang berkaki tiga itu membutuhkan usahaku yang keras. Tubuhku yang kecil hanya bisa mencapai setengah dari tinggi papan tulis kelasku. Itupun, aku harus berjinjit dulu agar bisa meraih batas tertinggi yang aku bisa. Maka tak heran jika tulisanku sering mendaki 😁

Suatu hari, ibu Satria mengisi mata pelajaran Bahasa Indonesia. Mata pelajaran yang menjadi favoritku. Tapi hari itu entah mengapa, ibu guru jadi begitu sensitif dan uring-uringan.  Aku yang duduk di bangku depan kali ini menjadi sasaran kemarahan beliau.

Kayu sepanjang kurang dari semeter yang berwarna hitam itu mendarat di bahuku. Aku terkejut, mengapa mendapat hukuman itu padahal yang berbuat kesalahan adalah teman sebelahku.  

Aku telungkup di bangku. Rasa sakit di bahuku  tidaklah melebihi rasa sedihku karena hukuman yang kudapat atas kesalahan yang tidak aku perbuat. Teman yang mencolekku dengan keras yang membuatku menoleh malah tak dapat hukuman.  Sampai mata pelajaran usai isak tangisku belum terhenti juga.

Ketika ibu guru hendak beranjak meninggalkan kelas, beberapa orang temanku yang mengetahui kejadian sebenarnya mengadu kepada ibu guru. Aku masih terisak di bangku sambil memasukkan bukuku ketika kudengar langkah selop ibu guru mendekatiku. Aku menengadah, lalu tangiskupun pecah di dalam dekapannya.


Posting Komentar