Nyaris

Minggu, 11 Januari 2015

Jam sepuluh pagi lewat.
Seperti biasa,  kegiatan rutin sebagai ibu rumah tangga sedang kulakukan ketika adik perempuan suamiku datang dengan langkah setengah berlari dan wajah yang sangat panik menemuiku.

"Hei...hei...cepat, lihat,  ada apa dengan gas dirumahku.....tabung gas ku mengeluarkan api! katanya dengan suara gemetar.
Tanpa berfikir panjang aku segera berlari menuju ruang dapurnya yang berjarak sekitar dua puluh langkah dari tempatku berdiri di tadi. Kami tinggal bersebelahan, terpisah jarak hanya sekitar 5 meter. Teras belakang kami tersambung satu sama lain dengan sebuah titian yang kami bentuk seperti jembatan yang berdinding dan hanya butuh beberapa langkah saja untuk saling berkunjung.

Tiba di ruangan dapur si adik ipar tadi,  kulihat api berwarna biru sedang menjilati regulator tabung gas 3 kg yang terletak bersebelahan dengan kompor yang sudah padam. Rasa terkejut dan sedikit takut tiba-tiba saja menghampiriku.  Beberapa kejadian tragis yang pernah kulihat di siaran berita televisi secara spontan melintas,  makin menambah kekhawatiranku. Aku harus segera bertindak....naluriku berkata.

Kain basah....ambil kain basah cepaat!!! kataku pada sang saudara ipar yang berdiri gemetar. Dia melangkah tapi tak tau kemana arah yang  hendak dia tuju.
Mataku dengan cepat mencari cari di sekitarku. Ada onggokan kain hitam tergeletak di lantai. Tanpa berfikir panjang lagi,  kain itu lalu dengan cepat kusambar dan berlari kearah tempat cucian piring dan menenggelamkannya ke dalam ember yang berisi air. Kuperas seadanya sambil berlari dan segera menutupkannya keatas tabung gas yang sedang menyala tersebut. "Bismillah",  ucapku sepenuh hati sambil menutupkan kain tersebut diatas nyala api tadi,  lalu segera lari menjauh. 

Jujur,  ada rasa khawatir yang sangat kuat,  takut kalau tabung tersebut tiba-tiba saja meledak. Api sudah tak terlihat lagi tapi asap masih mengepul dari bawah kain. Pasti pengaruh dari kain basah tadi yang terkena api, fikirku. Tetapi perasaanku belum tenang melihat asap itu. Sambil berzikir dalam hati untuk menguatkan batin yang cemas bukan kepalang,  kuberanikan diri kembali mendekati tabung gas  dan membuka kain hitam tadi. Astagfirullah,  apinya masih menyala!!! Pantas saja ada kepulan asap. Kuplin  kain tersebut seperti memeras kain lalu menyumbatkan ke asal api tadi. Alhamdulillah,  api akhirnya padam dan akupun kembali menjauh. Tapi kepanikan dan kekhawatiran belum selesai sampai disitu. Bunyi desis tiba tiba saja terdengar keras.

Cabut regulator!!  kataku. Tapi iparku sudah sedemikian terkejutnya dan hanya bisa berdiri diam. Aku segera mendekati kembali tabung yang baru saja padam,  mencoba membuka peutupnya, tapi tidak bisa. Kepala regulator tak bisa lagi kulepaskan karena pemutarnya sudah habis terbakar. Mungkin itu yang menyebabkan asap yang keluar dan api tidak padam meski kain basah telah kututup keatasnya.

Meski perasaan ngeri dan takut masih membayangi, aku harus melawannya dan memberanikan diri untuk mendekati tabung yang sudah sangat  panas itu.
Bismillah,  laa hawla walaa quwwata illaa billah. Kembali kucari kekuatan dan perlindungan padaNya,  sementara tanganku mencoba menghentikan bunyi desis gas yang keluar dari regulator yang sudah tak bisa terbuka lagi. Kutekuk selang gas keatas, bunyinya berkurang. Aku lalu meminta sesuatu untuk bisa menghentikan aliran gas yang terhembus keluar. Tapi adik iparku sepertinya sudah sangat terkejut untuk bisa mengambil keputusan. Kulepas kembali selang tadi lalu berlari mencari plastik kresek ditempat sampah yang ada diruangan dapur tersebut. Kuambil yang bertekstur lembut,  lalu  membungkus selang yang lubang tadi. Bunyi desisnya berkurang,  tapi belum berhenti. Bau menyengat masih tercium agak tajam."Selangnya harus dilepas,"  kataku kepada saudara ipar tadi sambil meminta obeng. Ia lalu bertanya kepada suaminya dimana tempat perkakas disimpan, tetapi suaminya yang sedang sakit dan terlihat sangat pias juga menanyakan hal yang sama kepada si istri.  Kutinggalkan mereka untuk bergegas kerumah mengambil obeng pipih. Untungnya aku biasa menyimpan perkakas seperti obeng dan semacamnya ditempat yang mudah terjangkau sehingga tak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa kembali ke ruangan dapur saudara tadi. Kudapati saudara iparku dan suaminya  berusaha melepaskan selang dari badan kompor,  tapi tak berhasil. Lalu kuambil alih pekerjaan mereka,  dan alhamdulillah tak butuh waktu lama selang pun terlepas dari kompor dan segera kuberitahukan agar tabung gas beserta selangnya yang bocor tersebut segera dibawa ke luar rumah sambil diawasi, karena tabungnya masih berisi gas. Ufffthhh...nyaris saja.

Kembali kerumah,  aku duduk merenung dengan badan yang sedikit gemetar dan lemas. Fikiran buruk dan rasa ngeri melintas bergantian. Terlintas kejadian buruk yang terjadi belum lama berselang tak jauh dari tempat kami, kebakaran yang menghanguskan beberapa buah rumah hanya dalam waktu singkat dan juga disebabkan oleh selang yang bocor dari tabung gas. Kulihat ibu mertuaku yang tergolek di pembaringan dan tak bisa berbuat apa apa selain membalikkan badan ke kanan dan ke kiri.
Rabb...aku bisa apa tanpa bantuanmu. Aku bisa bagaimana jika tak Kau berikan ketenangan ketika menghadapi bahaya yang nyaris saja mencelakakan kami...
Rabb...bagaimana keadaan kami jika saat itu fikiranku Kau bingungkan atau Kau buat aku lemas melihat petaka yang sedemikian dekatnya...
Rabb...

Dan aku hanya bisa membiarkan aliran air menderas keluar dari kedua sudut mataku, dengan membawa semua rasa takut,  cemas dan kengerian yang membayang dari anganku.
Laa hawla walaa quwwata illa billah. Tak akan terjadi sesuatu apapun di luar kehendakMu. Alhamdulilkah Rabb....
                            *************


*Gambar dalam tulisan ini adalah kebakaran yang terjadi beberapa waktu lalu, dekat dari tempat tinggalku.

13 komentar

  1. Alhamdulillah masih dilindungi ya mba...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulikkah mba Kania Ningsih, Allah menjaga dari malapetaka hari itu. Terimakasih ya, sudah mampir :)

      Hapus
  2. Syukur alhamdulillah, masih berada dalam lindungan Yang Maha Kuasa, tabung gas tidak meledak. Heran juga sih, koq bisa keluar api dari tabung gas, ya? Deg-deg-an juga baca postingan ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih bu Yati, setelah dicek ternyata api menjalar dari selang gas yang sudah usang dan bocor. Makasih yaa, sudah mampir.

      Hapus
  3. Masya Allah bunda, bisa membayangkan berada di situasi itu. Alhamdulillah bunda masih bisa berpikir rasional saat kejadian itu

    BalasHapus
  4. Balasan
    1. Alhamdulillah, mba Sri Muliana, Allah membantu menjernihkan fikiran dan mengingatkan untuk selalu meminta pertolonganNya, meski sesudah kejadian itu aku langsung lemes dan ngeri.

      Terimakasih, kufollow balik yaa :-)

      Hapus
  5. Nah itulah mbak kadang-kadang saya ngeri jika suruh pasang tabung gas sendrii...mending dibantu orang yang ahli. Bersyukur selalu ada Allah SWT yang melindungi..salam kenal ya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang suka deg degan juga mbak, tapi yaa diberanikan saja plus berdoa minta perlindungan padaNya.
      Terimakasih ya sudah mampir :)

      Hapus
  6. alhamdulillah tidak terjadi apapun walaupun keadaannya telihat panik .. bangga sekalii bisa berani seperti itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, mbak Nabil.
      Kejadian tersebut menyadarkan betapa lemahnya manusia, dan betapa tidak berdayanya kita jika Allah tak menolong.
      Terimakasih ya, sudah mau mampir.

      Hapus
  7. Astagfirulaahh, paling ngeri kalau mendengar gas meledak, semoga kita semua dilindungi Allah SWT mba Ida, saya sampai gemetar bacanya jadi ingat tkang gorengan yang meledak kompor gasnya gegara dia mengganti tabung sambil merokok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, terimakasih ya mbak Aisha, sudah mau mampir.
      Iya, kadang masih suka merinding kalau ingat kejadian tersebut.
      Ujung-ujungnya pasti akan memasrahkan diri kepada-Nya atas segala kejadian yang telah ia tentukan.

      Hapus