Antara Jihad, Cinta dan Briptu Norman

Senin, 07 Januari 2013

Miris, sedih dan beribu rasa menghentak, mengusik rasa kepedulianku.
Siaran tivi yang beberapa hari ini dipenuhi berita bahagia tentang seorang yang bernama Norman Kamaru, Brimob yang berpangkat Briptu, tiba-tiba tercabik oleh berita peledakan bom pada sebuah mesjid, di "sarang" polisi, disaat pelaksanaan shalat jum'at pula!

Duh....apa gerangan yang terjadi pada negri ini ?
Aku yang hanya seorang ibu rumah tangga biasa, mencari jawab pada apa yang bisa terbaca dan dapat tercerna dalam fikiranku.Berita bagiku hanyalah selingan yang dapat kulihat di sela-sela waktu senggangku.


Bukan  tak suka, malah kadang aku menikmatinya. Hanya saja, akhir-akhir ini aku begitu lelah melihat berita, mendengar kabar yang sarat dengan rekayasa, kebohongan, dan seribu satu macam sandiwara politik yang dengan entengnya di lakoni oleh mereka yang mengaku sebagai wakil rakyat.
Rakyat manakah yang mereka wakili? tanyaku membatin. Entahlah, mungkin tak pantas kupertanyakan, karena merekapun barangkali akan sulit menjawabnya.

Spontan fikiranku menyalahkan sang bomber. Kok meledakkannya di dalam mesjid, hari Jum'at pula,hari yang diistimewakan bagi ummat muslim. Apa iya pelakunya adalah seorang Muslim?
Silih berganti pertanyaan timbul dalam fikiranku, dan kucoba menjawabnya sendiri.
"ah, tidak mungkin ia seorang muslim. Masa iya sih seorang muslim mau menyakiti muslim lainnya"
"tapi bisa saja ia seorang muslim, kan mereka berjihad", kucoba meyakinkan diri.
"lho...berjihad kan artinya beribadah, ini kok malah menghalangi orang lain beribadah ya..." (bingung).
"lha...mereka kan jihad menghancurkan thoghut, (seperti yang dikutip oleh wartawan sebuah stasiun televisi berita), membuat aku makin bingung.

Astagfirullah!!! barangkali aku memang tidak begitu faham tentang jihad  sebagaimana pemahaman mereka, sehingga sangat sulit menerima kejadian ini dengan akal sehatku.Jihad yang kutahu selama ini hanyalah sebatas berperang melawan kekafiran dan memerangi kefasikan dengan tangan, lisan dan hati. Atau jihad melawan syaithan dengan menolak syubhat dan meninggalkan syahwat yang dipoles indah olehnya, ataupun jihad melawan hawa nafsu.

"Mengapa harus dengan cara seperti ini?", tak dapat kuwab.
Kucoba menyelami perasaanku sendiri, mencoba bercermin dangan kaca bomber tersebut, tetap tak bisa sebab aku hanya menyimpan jawab untuk pertanyaan tentang bagaimana pribadi seorang muslim seharusnya.
  1. .Seorang muslim itu mencintai untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai untuk dirinya sendiri, dan       membenci untuk saudaranya sebagaimana ia membenci untuk dirinya sendiri, sebagaimana hadist Rasul   SAW : "Salah seorang dari kalian tidak beriman hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri, dan membenci untuk saudaranya apa yang ia benci untuk dirinya sendiri."  (Muttafaqun Alaih).
  2. ".Perumpamaan kaum Mukminin dalam kecintaan mereka, kasih sayang mereka, dan keakrabanmereka  seperti satu badan. Jika salah satu anggota badan sakit, maka untuknya seluruh anggota badan tidak bisa tidur dan demam". (Muttafaqun Alaih).
  3. ".Orang Mukmin bagi orang Mukmin lainnya adalah seperti bangunan dimana sebagiannya menguatkan se bagian yang lain". (Muttafaqun Alaih).
  4. "Orang Muslim adalah saudara Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzaliminya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinanya." (H.R.Muslim).
Dan masih banyak lagi dalil tentang kasih sayang yang seharusnya dimiliki oleh seorang muslim yang pernah kudengar dan kubaca. Lalu mengapa ini terjadi? Haruskah aku mempertanyakan hal ini? Kepada siapa ? Apa yang salah? Entahlah....aku hanya mencoba menjawab  dengan keterbatasanku.
"Berkacalah pada masing-masing cermin diri, bertanyalah pada sanubari ".
"Masih beningkah cermin tampat berkaca, masih jernihkah sanubari tempat bertanya....?"
"Wallahu a'lam", karena hati adalah tempat rahasia yang hanya diketahui oleh Yang Maha Tahu dan sang pemilik kalbu.
Atau........bisa jadi ini adalah sentilan bagi sang "Briptu" agar tak terlena dengan kemegahan panggung hiburan sehingga melupakan tugas utamanya sebagai seorang "Briptu".....hanya Allah dan sang bomber yang tahu kebenarannya. Aku hanya bisa menebak!!!

Posting di blog Beribadah, Belajar dan Berukhuwah (15 April 2011)

Posting Komentar