Sekitar satu setengah bulan yang lalu, aku menerima pesan inbox dari seorang kawan yang cukup lama tak pernah bertemu. Dalam pesannya dia mengatakan kalau saat ini ia banyak membaca buku. Dan salah satu yang dibacanya adalah buku 7 Keajaiban Rezeki. Dengan kata-kata yang sedikit memprovokasi, kawan tadi bahkan menyarankan agar aku membacanya.
Jujur, saat itu aku sama sekali tak tertarik , apalagi mendengar nama pengarangnya yang kuanggap 'biasa-biasa saja'. Maklum, sejak mengikuti suami pindah ke ibu kota kabupaten dan seeing mengikuti kajian-kajian, aku lebih banyak membaca literatur yang 'berbau tarbiyah'. Akibatnya, aku jadi 'kuper' terhadap buku-buku yang berbau 'non tarbiyah'. Padahal sebelumnya, aku termasuk orang yang paling suka membaca buku apapun yang kuanggap menarik.
Satu setengah bulan kemudian, seorang teman tarbiyah lagi-lagi menawarkan buku yang sama.
"Umm, sudah pernah baca 7 Keajaiban Rezeki?" tanyanya ketika kami sama-sama menumpang angkutan umum sepulang dari tarbiyah.
"Belum" jawabku seadanya.
"Emang siapa penulisnya sih" lanjutku, penasaran ....
Terus terang aku gak terlalu ngeh akan keberadaan buku dengan judul yang berbau "duit" dan sejenisnya. Bagiku, perjalanan spiritual yang kualami selama ini sudah cukup memuaskanku, dan aku tak memikirkan lagi masalah materi dan kebendaan.
"Penulisnya masih muda umm, tapi masya Allah buku-bukunya, baik semua ." (seperti itu yang dia bilang).
"Kebetulan besok aku mau ke Makassar, apa ummu mau nitip bukunya, kebetulan aku mau ke toko buku, mau beliin titipan teman-teman yang lain" sambungnya.
O,ya, aku tinggal di salah suatu ibukota kabupaten yang jaraknya ratusan kilometer dari ibu kota propinsi, dan butuh waktu sekitar 4 jam lebih untuk ke sana jika memakai kendaraan pribadi. Tak jarang aku dan teman-teman lain menitipkan sesuatu ke pada teman yang mau ke sana, seperti membeli buku dan keperluan lainnya.
Sangat sulit sekali memenuhi kebutuhan akan buku bacaan. Akibatnya, kadang kami agak lambat mengetahui tentang dunia "perbukuan"! Termasuk diriku yang jadi "korban" keadaan ini. Pokoknya kudet habis deh 😊
"Iya , aku titip satu kalau begitu", jawabku seadanya, lebih kepada penasaran pengen tahu jenis buku tersebut.
Beberapa hari kemudian seusai tarbiyah, buku itu akhirnya sampai ke tanganku. Terus terang, aku langsung jatuh cinta begitu melihat sampulnya, beda dari buku-buku yang selama ini kubaca.
Sesampai dirumah, kusobek bungkus plastiknya dan mulai membuka-buka lembaran isinya. Ah, tak tahan rasanya untuk segera membacanya. Awalnya aku berniat hanya sekedar "mengenal" isinya saja sebelum serius membacanya. Ehhh ... ternyata keterusan membacanya serius sampai berlembar-lembar 😁
Azan magrib berkumandang, lalu kusimpan dulu buku tersebut, memutuskan untuk membacanya kembali malam nanti.
Setelah menunaikan shalat Isya dan menyelesaikan semua pekerjaan rumah , kuambil kembali buku tersebut. Mulai membukanya lagi dari lembaran pertama. membacanya dan hanyut ke dalam barisan huruf, melewati kata demi kata, kalimat per kalimat, dan tanpa terasa aku sudah membaca seperampat halaman hanya dalam waktu setengah jam lebih.
Bagi kebanyakan orang, mungkin hal tersebut masih termasuk lambat untuk membaca buku tersebut. Tapi bagiku, itu sudah termasuk sangat cepat, mengingat kondisiku saat itu yang betul-betul letih setelah sharian mengerjakan pekerjaan rumah sambil menunggu jualan, mengikuti kajian siang harinya dan tiba di rumah menjelang magrib. Ditambah lagi kaca mata yang sepertinya sudah mulai buram, jadinya kadang aku harus membaca sambil sesekali melepas kaca mata dan melapnya. (Padahal aslinya sang kaca mata sudah minta ganti...hehehe).
Letih membaca sambil duduk, kuambil bantal dan merebahkan diri sementara sang buku tak mau lepas dari tanganku.(Sayang rasanya melepaskan pandangan dari halamannya!) 😉
Ih....buku ini bak candu, makin dibaca, makin ingin meneruskan!
Mungkin agak berlebihan jika kukatakan kalau buku tersebut adalah "aku banget!", dan mungkin karena terbawa perasaan itulah sehingga tanpa terasa buku tersebut telah kubaca tiga perempatnya. Malam mulai larut dan mataku makin perih, juga semakin berat untuk kubuka dan menuntut untuk segera direhatkan.
Kututup buku tersebut dan memutuskan untuk memberikan hak pada sang mata.
"Tiap anggota tubuh mempunyai hak atas dirimu". Begitu yang aku tahu. Aku tak boleh berbuat zalim kepada sang mata. Diapun berhak untuk istirahat, sebagaimana akupun berhak untuk mempergunakannya, untuk melihat Kebesaran ciptaan Allah yang terhampar dibumi.
**************
Buku itu selesai ku baca keesokan harinya, siang setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, sambil jualan dan menunggu anak-anak pulang sekolah. Masya Allah ... bagiku, isinya sungguh memotivasi bagi siapapun. Aku kadang manggut manggut, bahkan tertawa sendiri membaca uraian dalam buku tersebut. Aku yang tadinya gak ngeh dan sedikit cuek hanya karena judulnya yang menurutku "palingan berbicara tentang materi", merasa berbalik 380 derajat. Ada rasa penyesalan karena sempat mengabaikan pesan kawan melalui inbox beberapa waktu lalu sehingga buku ini terlambat kubaca 😓
Buku tersebut makin membukakan mataku akan makna "kajian" itu sendiri, bahwa kajian tidaklah sesempit hanya sebatas menelaah buku-buku tebal dan berat yang membahas masalah ibadah, aqidah, fiqhih dan semacamnya, atau hanya mengkaji buku-buku karya ulama-ulama besar seperti Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Ibnu Katsir, Al Utsaimi dsb.
Ternyata, dengan membaca buku yang ditulis seorang Ippho "Right" Santosa yang tadinya kuanggap biasa biasa saja (tutup muka pake bantal, maluuu), aku malah mendapat materi kajian yang lebih "membumi". Riil apa adanya, dan tak perlu banyak teori.
Malamnya, aku membuka halaman Facebook yang di asuh Ippho , kubaca ada promo sale untuk 6 bukunya hanya dengan harga rp.300 ribu rupiah. Dan tanpa fikir dua kali lagi (Salah satu ciri khas Otak kanan, begitu yang kubaca di buku Ippho....hmhmhm) kuambil HP, lalu memesan paket buku tersebut!
Lucunya., aku yang tadinya diajak sang teman untuk memiliki buku 7 Keajaiban Rezeki, kini malah balik menawarkan sang teman untuk memesan paket yang kupesan. Daaan ternyataaa, sang kawan justru malah tak tahu tentang promo ini. Hikhikhik....jangan-jangan temanku ini rada-rada kiri yaaaa ... (maaf ukhti, becanda!). 😍
Dan begitulah, akhirnya aku memesan 2 paket buku, satu untukku dan satu untuk temanku itu.
Alhamdulillah, beberapa hari kemudian, paket buku tersebut sampai ketanganku. Begitu melihat isinya aku langsung mengucap syukur dalam hati. Alhamdulillah yaa Rabb, telah Kau bantu aku untuk mengambil keputusan dengan cepat, tepat dan benar. Ya...aku setuju 1000% untuk memulai segala sesuatu dengan yang kanan!
*Catatan yang kuboyong dari blogku Beribadah, belajar dan berukhuwah yang sekarang sudah enggak aktif lagi (posting 9 Nov 2011)

Posting Komentar