Cerita tentang Lukman

Kamis, 07 Juli 2011

Ini kisah tentang anak SMU yang baru saja lulus. Mereka bersorak, melompat dengan riang, kontras dengan keadaan teman-teman mereka setahun lalu. Tahun ini, mereka lulus dengan mudah plus nilai yang sungguh mengagumkan. Bahkan, anak-anak di daerah asalku, banyak yang memeperoleh nilai kelulusan hampir sempurna. Mereka gembira, meluapkan eforia kelulusan yang beberapa tahun lalu merupakan momok yang paling menakutkan bagi mereka, meski tak dipungkiri, terdapat beberapa kecurangan yang berhasil diketahui umum, atau yang berhasil ditututpi dengan baik. (Dimata manusia tentunya).

Khusus lulusan SMU di daerah asalku, suatu kebanggaan bahwa banyak diantara mereka yang beruntung diterima di perguruan Tinggi Negri tanpa harus mengikuti UMPTN. Mereka diterima melalui jalur Undangan yang menerima siswa siswi lulusan SMU terpilih, dengan syarat harus mempertahankan nilai prestasi sekolah yang stabil selam tiga tahun berturut-turut. Alhamdulillah, bahkan salah satu SMU favorit di daerah tempat tinggalku, berhasil memasukkan sekitar 60 orang siswanya.

Bagi mereka yang lulus di jalur Undangan ini, tentunya merupakan kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri. Bayangkan saja, mereka masuk tanpa harus berdesak-desakan dengan ratusan ribu calon Mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah. Ya...tentu saja dengan perjanjian yang harus mereka patuhi, yakni mereka harus dapat mempertahankan prestasi akademiknya selama tiga semester berturut-turut. jika tidak, maka resikonya mereka akan di keluarkan alias DO.



Sayangnya, banyak diantara mereka,  diterima bukan pada bidang yang mereka sukai. Akhirnya banyak  yang  melepas undangan  tersebut lalu memilih untuk mengikuti UMPTN dan memilih fakultas sesuai apa yang mereka kehendaki. Tentu saja, ini sangat disayangkan karena akibat perbuatan mereka tersebut, fihak sekolah yang bersangkutan mendapat imbasnya.  Terakhir, kabar yang aku dengar adalah bahwa fihak perguruan tinggi  memberi sanksi yang cukup keras kepada sekolah yang bersangkutan. Selama Lima tahun kedepan, sekolah tersebut tidak lagi memperoleh jatah undangan untuk siswanya yang berprestasi:(

Sangat disayangkan, tapi di fihak lain, aku salut juga dengan sikap para siswa tersebut. Dari perbincangan sepintas, alasan mereka menolaknya beragam. Ada yang tak suka dengan jurusan  tempatnya diterima dan tak mau mengambil resiko mengalami kegagalan dengan memaksakan diri mengikuti perkuliahan pada jurusan yang mereka tak suka. Rata-rata mereka merasa khawatir tak dapat mempertahankan prestasi selama Tiga semester. Ada juga yang membatalkan undangan karena alasan keuangan.

Salah seorang teman ponakanku, sebut saja Lukman, adalah korban keadaan ini. Ia lulus di fakultas yang di sukainya melalui jalur undangan. Sayangnya, ia melepasnya begitu saja dan memilih ikut UMPTN bersama ponakanku. Tragisnya, pada saat pengumuman hasil ujian  keluar, si Lukman termasuk salah seorang calon mahasiswa yang gagal mewujudkan impian untuk masuk di Perguruan Tinggi Negri.

Yang lebih menyedihkan, dari cerita ponakanku, ternyata si Lukman dengan terpaksa mengikuti UMPTN lantaran tak bisa membayar biaya pendaftaran sebesar 850 ribu rupiah sebagai persyaratan ia diterima sebagai mahasiswa yang terdaftar melalui jalur undangan. Bukan tak mau, hanya saja, sampai pada batas akhir pembayaran yang ditentukan fihak Perguruan Tinggi, Lukman belum menyetorkan uang yang dimaksud.

Ah....miris sekali. Lukman yang pendiam dan tak mau berbagi derita dengan temannya. Dia hanya tertunduk tak dapat berucap ketika teman-teman menanyakan  mengapa ia melepas  kesempatan begitu saja. Aku yang mendengar cerita ponakanku ikut terenyuh bahkan menitikkan air mata.Uang senilai 850 ribu menyebabkan seorang anak melepaskan kesempatan emasnya untuk mengenyam pendidikan yang pasti sangat diidamkannya.

Ah....malu rasanya mengingat betapa seringnya menghamburkan uang pada hal yang tak terlalu perlu.
Yang lebih menyedihkan, ternyata teman-teman Lukman  sudah  berencana untuk saling membantu meringankan pembayaran Lukman.Hanya saja, Lukman begitu pendiam dan pemalunya untuk menerima uluran tangan para sahabatnya. Orang tua Lukman yang akhirnya dapat memperoleh pinjamam, akhirnya hanya mampu membelai kepala anaknya dengan iba. Mencoba menyabarkan Lukman yang tertunduk murung, menyesali keterlambatan mereka memperoleh dana lantaran susahnya memperoleh pinjaman.

Terakhir, aku dengar Lukman mendaftar di salah satu Perguruan Tinggi swasta yang ada di daerahnya.  Semoga Allah Swt memberi jalan terbaik dan kemudahan baginya. Amin.

2 komentar

  1. padahal setelah lulus masih ada kelanjutannya yaitu kuliah. jadi mestinya tidak terlalu lebay dalam mengumbar kegembiraan

    BalasHapus
  2. Iya yaa, tapi begitulah, bisa jadi karena lulus ujian SMA merupakan masa terberat yang harus mereka lewati....

    BalasHapus