Aku berlari segera, meninggalkan buah nenas yang hampir selesai kubersihkan. Wangi jahe merah yang menelusup ke indera penciumanku membuatku tersadar bahwa aku sedang menjerang nya beberapa saat lalu. Benar apa yang kutakutkan, air jahe yang sejatinya akan kuminum kini mengering. Pancinya mulai mengeluarkan asap dan mengeluarkan bunyi desis. Nyaris gosong.
Ini bukan yang pertama. Berkali kali kejadian seperti ini berulang terus dan mulai membebani batinku. Entah sudah berapa panci yang menjadi korban atas lupaku ini. Kemarin, presto yang baru benerapa kali dipakai jadi gosong lantaran aku lupa mengeratkan tutupnya.
Rasa bersalah membuatku merasa sedih. Ada sesal yang menelusup atas lupaku ini. Spontan kulantunkan doa dengan diringi butiran bening yang menggelinding. Ya rabb, hilangkan sifat lupaku ini. Isakanku makin tak tertahan. Nyaris menumpahkan rasa tak berdaya atas lupa yang senantiasa menyertaiku.
Doa terus kulafazkan berkali kali sambil mengangkat panci yang nyaris gosong itu dari atas kompor. Bisikan halus menelusup petlahan ke relung sanubariku. "Istigfarlah! Mohon ampun kepada Allah atas ketidak ikhlasanmu menerima cobaan itu!" Bisikan yang menyentakku dengan keras.
Astagfirullah. Spontan bibirku mengucap, memohon ampun atas ketidak relaanku menerima takdir tersebut. Rasa bersalah kali ini yang muncul lebih menenangkan. Aku merasa betapa congkaknya aku berani merasa sedih atas cobaan yang ditimpaku.Bukankah Allah lebih tahu apa yang pantas ia berikan untuk seorang hamba?
"Bisa jdi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al Baqarah; 216)
"Bisa jdi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al Baqarah; 216)
Rabb, maafkan aku atas ketidak sabaranku. Kumohon kepadamu kebaikan atas lupaku, dan lindungi au dari keburukan lupaku ini. Doa lain segera kulantunkan. Kesadaran akan hikmah dari cobaan itu membuat hatiku bergetar.
Janji Allah yang melintas dalam benakku ini menjadi penguat bagiku. Ya, mengapa aku begitu naif? Pasti ada hikmah yang Allah janjikan dari lupa yang ditakdirkan untukku, hanya saja aku belum bisa menangkapnua.
Ah ya. Wahai, dimana kesadaran itu selama ini? Bukankah dengan adanya lupa yang Dia titipkan membuatku bisa lebih kuat untuk bangkit dari duka menahun? Dengan lupa, aku jadi fokus menatap masa depanku. Dengan lupa, kejadian kejadian sedih masa lalu menjadi buram dan tak lagi memenuhi benakku. Dan di atas semua itu, buknkah Allah menjanjikan pahala atas setiap kejadian yang menimpa?
Diriwayatkan dari Abu Sa,id Al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu dan Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Tiada musibah yang menimpa seorang muslim berupa kelemahan, kesakitan, kegelisahan, kesedihan, kesusahan dan kegerahan, bahkan tertusuk duri sekalipun, kecuali Allah akan mengampuni dosa-dosanya." (Muttafaq 'Alaih)
Alhamdulillah, ya Rabb atas nikmat lupa ini. Maka berilah aku kebaikan dari sipat lupa ini, dan peliharalah aku dari keburukannya.Aamiin.
Ah ya. Wahai, dimana kesadaran itu selama ini? Bukankah dengan adanya lupa yang Dia titipkan membuatku bisa lebih kuat untuk bangkit dari duka menahun? Dengan lupa, aku jadi fokus menatap masa depanku. Dengan lupa, kejadian kejadian sedih masa lalu menjadi buram dan tak lagi memenuhi benakku. Dan di atas semua itu, buknkah Allah menjanjikan pahala atas setiap kejadian yang menimpa?
Diriwayatkan dari Abu Sa,id Al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu dan Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Tiada musibah yang menimpa seorang muslim berupa kelemahan, kesakitan, kegelisahan, kesedihan, kesusahan dan kegerahan, bahkan tertusuk duri sekalipun, kecuali Allah akan mengampuni dosa-dosanya." (Muttafaq 'Alaih)
Alhamdulillah, ya Rabb atas nikmat lupa ini. Maka berilah aku kebaikan dari sipat lupa ini, dan peliharalah aku dari keburukannya.Aamiin.
Posting Komentar