Saya itu paling gak bisa mendengar ada orang yang tiba-tiba saja.mau berhenti berkarya hanya karena diejek seseorang. Pasti deh, akan aku kompor-komporin sampai dia bisa."menyala" lagi. Ya, iyalah...coba saja, orang yang kumaksud ini adalah salah satu penenun yang kuandalkan hasil kerjanya. Dia sangat telaten dalam bekerja, rapih dan
pandai membuat motif sesuai contoh yang diberikan. Lebih dari itu, dia kreatif juga. Banyak karya yang dia ciptakan hanya berdasarkan gambar, foto atau suatu bentuk yang dia lihat.
pandai membuat motif sesuai contoh yang diberikan. Lebih dari itu, dia kreatif juga. Banyak karya yang dia ciptakan hanya berdasarkan gambar, foto atau suatu bentuk yang dia lihat.
Nah, bayangkan saja, tanpa angin tanpa hujan, tiba-tiba ia bbm aku dan bilang begini, "bos, aku mau berhenti saja. Aku sudah tidak mau menenun lagi. Kalau bos ada pesanan, lewat kakakku saja ya."
Coba...penasaran kan??! Dan pastinya aku nanya doong alasan mengapa dia mengambil keputusan tersebut. Tapi sayangnya dia tak mau mengatakannya meskipun setelah kudesak beberapa kali. Ya, sudahlah, kalau memang tak mau mengatakan, aku juga tak mau memaksanya. Pasti ada sesuatu alasan yang sangat kuat sehingga dia mengambil keputusan tersebut, fikirku. Lalu aku akhiri obrolan via BB tersebut.
Tak disangka, beberapa waktu kemudian dia BBM aku lagi dan bilang begini :
"Sebenarnya aku malu bos diejek." Aku mengernyitkan kening, dan si rasa kepo makin menggebu-gebulah.
" Siapa yang ejek, diejek bagaimana? Biasanya orang yang mengejek itu cemburu sama kita." Kujawab ia.
"Sepertinya begitu, bos."
"Sudah, cuekin saja, barangkali dia tak senang meliat kamu maju." Aku mulai mengompori.
"Aku malu bos dibilang laki-laki menenun."
"Astagfirullah, kenapa malu. Itu kan keahlian yang Allah beri ke kamu..."
Bla...bla...bla...
"Sebenarnya aku malu bos diejek." Aku mengernyitkan kening, dan si rasa kepo makin menggebu-gebulah.
" Siapa yang ejek, diejek bagaimana? Biasanya orang yang mengejek itu cemburu sama kita." Kujawab ia.
"Sepertinya begitu, bos."
"Sudah, cuekin saja, barangkali dia tak senang meliat kamu maju." Aku mulai mengompori.
"Aku malu bos dibilang laki-laki menenun."
"Astagfirullah, kenapa malu. Itu kan keahlian yang Allah beri ke kamu..."
Bla...bla...bla...
Dan berpanjang lebarlah akhirnya ia ku komporin. Sampai akhirnya ia meluruh dan bersemangat kembali. Ufhhs.
******************
Aneh memang, kadang seseorang begitu lemahnya menghadapi ejekan dan cercaan, sampai-sampai begitu nekat mengambil keputusan yang akan merugikan diri sendiri. Padahal bisa jadi, keputusan tersebut justru akan menjadi bahan ejekan selanjutnya.
******************
Aneh memang, kadang seseorang begitu lemahnya menghadapi ejekan dan cercaan, sampai-sampai begitu nekat mengambil keputusan yang akan merugikan diri sendiri. Padahal bisa jadi, keputusan tersebut justru akan menjadi bahan ejekan selanjutnya.
Seperti kasus cowok penenun ini, seandainya saja ia berhenti berkarya, lalu bagaimana? Apakah akan menjamin ejekan lain tidak bakalan ia terima karena akhirnya ia jadi pengangguran? Jadi serba salah kan?!
Kelihatannya, dijaman sekarang dimana keadaan seseorang begitu mudahnya menjadi bahan penilaian orang lain, baik itu positif ataupun negatif, rasa percaya diri haruslah dipupuk. Kita harus punya kepribadian yang kuat dan rasa percaya diri yang tebal untuk menghadapinya. Seperti penguatan yang kuberikan kepada si cowok tadi. Aku membangkitkan rasa percaya dirinya dengan mengatakan bahwa ia tak perlu malu menerima kenyataan bahwa sebagai pria, dia pandai menenun. Kukatakan pula bahwa keahlian itu Allah berikan kepada dia sebagai suatu keistimewaan yang tidak diberikan kepada semua orang, dan memang kenyataannya demikian. Contohnya aku, meskipun aku bergelut di bidang bisnis pertenunan, tapi aku sama sekali tidak bisa menenun!!!
Lha, iya kan. Allah itu akan memberi keahlian kepada seseorang sesuai kehendakNya, sebagai suatu kelebihan yang tidak Dia anugrahkan kepada semua orang. Dan sebagai makhluk yang diciptakan hanya untuk beribadah kepadaNya, keahlian kita tadi hendaknya dipergunakan sebagai salah satu sarana untuk beribadah.
Sebagaimana cowok tadi, Allah mungkin tidak memberi dia kemampuan untuk bekerja kantoran, tetapi hal tersebut tergantikan dengan diberikannya keahlian menenun. Nah, dengan keahlian yang dia punyai tadi tentunya dia bisa melakukan banyak hal. Misalnya, menenun kain-kain yang bagus lalu menjualnya, kemudian hasil dari penjualan tersebut dia pakai untuk beramal jariah. Atau, dia bisa membagikan ilmu yang dia miliki kepada orang lain sehingga orang lain tersebut bisa pula menenun dan melakukan hal sama, beramal dengan hasil tenunannya. Sederhana bukan??
Nah, kalau kita sudah punya pemikiran seperti itu, tentu tak ada lagi alasan untuk mundur dari suatu pekerjaan hanya karena ejekan. Cuek aja, jalani apa yang kita bisa dan jadikan ia sarana untuk berbuat kebaikan. Cukup kita katakan kepada mereka yang suka usil dan mengejek: "kalau saya bisa, emang kenapa!. MASALAH BUAT LOO!!!"


ini cakep kak tulisannya, sdh keren malah ini blog, punyaku blm sampai taraf ini hehehehe
BalasHapusAih..makasih Ida, udah mau mampir. Masih tahap belajar nih. Postingan lebih banyak pake andro, jadi ya begini deh tampilannya. Yang penting nulis dulu 😊
BalasHapusTulisan ta juga keren lho.
Iya benar, Kak .... keahlian seperti itu pun juga sebenarnya bukan milik perempuan semata
BalasHapusyup, karena banyak kenyataan, bahwa hasil tenun pria kadang lebih baik kualitasnya dibanding hasil tenun wanita, seperti pria yang saya maksud ini.
BalasHapus